Friday, February 24, 2017

Gelap / Malam

Mataku terbuka lebar, jalanan masih terbentang jauh di depan. Jalanan luar kota ini benar-benar membosankan, hanya lurus tanpa macet dan hanya sedikit motor dan mobil yang lalu lalang. Ku lihat kakak ku tertidur di kursi belakang, Ayah dan ibuku pun masih terlelap di kursi depan. Di bis ini semua terasa sepi. Malam terus membuat kegelapan yang semakin pekat, lampu-lampu jalan mejadi lebih terang dan jelas. Sesekali terlihat orang yang membawa dagangannya berdiri di pinggir jalan dan kelihatannya jarang sekali bis yang mengizinkan mereka masuk untuk berjualan sekaligus menumpang ke tempat tujuan mereka. Entah sudah berapa kali aku mengecek handphone-ku hanya untuk melihat jam. Waktu terasa sangat lama saat hal-hal membosankan terjadi dan hal yang bisa ku perbuat hanyalah melihat kegelapan dari balik jendela bis.


Apa yang kalian pikirkan saat melihat kegelapan malam? 


Mungkin diantara kalian punya ketakutan akan kegelapan, aku pun demikian. Untukku, kegelapan yang pekat adalah musuh. Kenapa? Karena dalam kegelapan, kita tidak bisa melihat apapun: kita tidak bisa lihat jalan pulang dan pergi, tidak bisa mengetahui kawan atau lawan dan tidak bisa mengetahui berbahaya atau tidaknya suatu benda yang berada di dekat kita. 

Kegelapan itulah yang aku takutkan.
Kegelapan tentang ketidaktahuan.

Namun, menurutku kegelapan malam berbeda. Tuhan menciptakan malam berbeda. Malam penuh dengan keingintahuan seperti bulan yang terkadang memperlihatkan dirinya di pojok awan hitam. Malam itu tentang selebrasi, dimana hanya saat malam bintang-bintang terlihat begitu terang dan indah. Malam bisa mencekam dengan guntur dan hujan yang menderu-deru namun malam juga bisa merdu dengan suara jangkrik dan binatang lainnya. Malam bisa menjadi waktu yang sangat nyaman untuk istirahat atau bahkan bekerja. 

Menurutku, 
Malam itu seperti bertemu teman lama, terkadang membuat aku teringat tentang baik-buruknya masa lalu.

No comments:

Post a Comment